Catatan Akhir Tahun; Perayaan untuk 1 Januari
Published :

Setiap peradaban besar punya sistem penanggalan (kalender) sendiri. Ada yang sepertinya sama, ada yang sepenuhnya berbeda. Misalnya, di bulan Januari yang akan tiba, kita akan disuguhkan oleh dua “perayaan” tahun baru—Imlek secara kebetulan bertepatan dengan tanggal 28 Januari.

Dari peradaban-peradaban kuna kita dapati informasi, manusia kembangkan sistem kalender sebagai momentum yang erat kaitannya dengan pertanian, astronomi, dan religi; ekonomi, alam, dan agama.

Di Mesopotamia bulan baru mengacu equinox matahari, momentum yang biasanya disambut dengan perayaan Akitu (panen gandum) sembari memuliakan Marduk.

Orang Mesir Kuno merayakan tahun baru setelah datang banjir tahunan dari sungai Nil, bertepatan dengan meningginya bintang Sirius. Musim hujan yang berlangsung kira-kira Juni-September itu menyetorkan lumpur subur. Saat surut, musim tanam berlangsung dari Oktober-Februari.

Mesir Kuno, Mesopotamia, Babylonia, Bangsa Phoenicians, dan Persia, “merayakan” tahun baru mereka dengan equinox musim gugur. China Kuno merayakannya pada bulan baru kedua mengacu equinox musim dingin. Sementara Yunani pada saat titik balik matahari di musim dingin.

Sistem kalender memang seolah berbeda sesuai budaya dan alamnya. Apa yang menjadi titik pangkal dalam konsep penanggalan dari tiap peradaban itu pun terkesan seperti garis waktu “imajiner”. Tapi sejatinya mereka berangkat dari sebuah pemahaman yang sama tentang “the laws of nature”; hal yang terjadi dengan teratur, bisa dihitung bisa diukur.

***

Lalu, sejak kapan digunakan tanggal 1 Januari sebagai momentum tahun baru—yang sekarang oleh hampir seluruh manusia dijadikan patokan?

Adalah Bangsa Romawi yang memelopori 1 Januari sebagai hari perayaan tahun baru, kurang lebih pada 46 BC, (bahkan bukan abad ke-1). Pun orang Romawi sebelumnya Gunakan vernal equinox dan “merayakan” tahun baru pada bulan Maret dengan berpesta dan berperang. Untuk mana yang lebih dahulu, kadang tidak terlalu penting (Martius/Mars; The God of War yang juga an agricultural Guardian).

Kalender Romawi yang masih rayakan tahun baru 1 Maret, besar kemungkinan sudah ada pada masa Romulus; penguasa dan pendiri Roma. Ada 10 bulan 304 hari pada Kalender Romulus: (1) Martius, (2) Aprilis, (3) Maius, (4) Junius, (5) Quintilis, (6) Sextilis, (7) September, (8) October, (9) November, dan (10) December.

Pompilius kemudian “iseng” menambahkan bulan Januarius (sebagai penghormatan pada Janus) dan Februarius.

Jumlah Bulan pun menjadi 12. September yang asalnya bulan ke-7 menjadi bulan ke-9. Kata “Septem” dalam bahasa Latin padahal berarti tujuh, Octo = 8, Novem = 9, dan Desem adalah 10.

***

Janus ialah dewa khas Romawi. Asal usulnya tidak ada kesepakatan. Ada yang percaya berasal dari budaya Skyth ada yang mengatakan ia anak Apollo (Yunani). Di dalam kota Roma terdapat tempat pemujaan Janus—untuk Janus Bifrons (Janus bermuka dua) atau untuk Janus Quadrifrons (Janus Empat Muka).

Banyak muka siratkan banyak kuasa (di langit, bumi, laut, dll). Janus juga sering digambarkan sambil memegang kunci di tangan yang satu dan tongkat di tangan yang lain.

Januae berarti pintu. Ia setua dunia. Dengan gerak tangannya ia sanggup buka-tutup pintu semesta. Untuknya para Norae berjaga gerbang angkasa.

Perayaan bagi Janus tentu harus meriah. Sebagian Bertukar hadiah di pesta Parau, lainnya menghias rumah dengan cabang-cabang laurel.

Raja Numa Pompilius yang “tergila-gila” kepada Dewa satu ini bahkan banyak membangun tempat pemujaan baginya di ibu kota–selain menjadikannya nama bulan. Tempat yang jika terjadi perang harus ditutup dan saat keadaan damai baru boleh dibuka.

Luar biasanya saat pemerintahan Pompilius tempat pemujaan Janus-nya tercatat hanya sekali pernah ditutup–ada juga yang mengatakan tempat tersebut ditutup ketika terjadi perang Punia yang kedua. Sebagai catatan, saat pemerintahan Agustus, tempat pemujaan itu sampai harus ditutup tiga kali.

***

Tahun 46 BC seorang Julius Caesar yang merasa berjiwa muda lalu datang dengan ide kreatifnya yang narsis: 1 tahun 365 hari, namanya Kalender Julius. Tak berhenti di situ, Bulan Quintilis ia ganti dengan namanya, menjadi Julius (Juli). Agustus pun latah, ia ganti bulan Sextilis jadi Agustus.

Dari bahasa Perancis “Calendier” yang artinya daftar, dari bahasa Latin “Calendrarium” (buku rekening), dan dari “Calendae” yang berarti hari pertama. Kita pun kini mengenal istilah Kalender. Lebih jauh, dari “Calare” yang artinya pengumuman atau panggilan teriakan, kita lebih jauh tahu bahwa di Roma, setiap bulan tidak dihitung serba pasti.

Para Imam akan merangkak keluar dari Capitol (konon setelah melihat tanda). Mereka seolah telah mendapat kuasa untuk menentukan jumlah bulan bahkan hari, kemudian mengumumkan-nya atau lebih mirip memaksakannya.

Semangat religi semakin menunjukkan gigi. Perayaan yang sertakan tradisi kerap dianggap “kafir”.

Pesta untuk Janus yang selalu meriah, mereka hapus. Para imam lebih jauh “mengganti” suka-cita rakyat terhadap pesta menyambut tahun dengan perayaan yang membawa makna lebih “religius”.

Tidak semua setuju, tidak semua mengikuti. Sampai Tahun 1582, Paus Gregorius XIII mereformasi kembali sistem kalender (Kalender Gregorian). Sepertinya sampai sekarang belum ada “revisi” lagi. Karena buktinya sistem inilah yang kini sebagian manusia akrabi–bahkan di atas sistem kalendernya sendiri.

Kita tinggal di bumi sebagai bagian dari generasi yang lahir berkali. Batu hancur, kayu membusuk. Orang kuat, mereka pun mati. Yang justru menarik adalah hal yang kasat mata: impian, ide, konsep, cita-cita, pemikiran, justru dapat terus hidup dan terus ada.

Tragisnya kini kita hanya pencatat musim yang menunggu ia berganti karena percaya: kita bisa menukar harapan dengan sekantong keinginan di tahun berikutnya.