Mengklasifikasikan Ras; Kesalahan Terbesar Ilmu Pengetahuan
Published :
Oleh: Darren Curnoe

Jika pembahasan Ras saat ini justru bergema oleh publik dan politik, apa yang para ilmuwan pikirkan tentang hal itu? Apakah ilmuwan, khususnya antropolog masih percaya bahwa Ras harus tetap berlaku?

Science adalah salah satu penemuan paling luar biasa dalam sejarah umat manusia. Ini telah menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan yang mengangkat selubung kebodohan dan takhayul, menjadi katalis untuk perubahan sosial dan pertumbuhan ekonomi, dan mampu menyelamatkan nyawa yang tak terhitung jumlahnya.

Namun, sejarah juga menunjukkan kepada kita bahwa Science seperti pisau bermata dua. Beberapa penemuan yang dilakukan bahkan bisa jauh lebih berbahaya daripada menguntungkan.

Ada satu kesalahan yang Anda tidak akan pernah baca dari daftar sumber di internet tentang “blunder terbesar” dari ilmu pengetahuan. Kesalahan terburuk dalam sejarah ilmu pengetahuan itu adalah mengklasifikasikan manusia menjadi Ras-Ras yang berbeda.

Walaupun kini ada beberapa pesaing besar untuk “kehormatan” yang dipertanyakan ini. Seperti penemuan senjata nuklir, bahan bakar fosil, CFC (chlorofluorocarbons), bensin bertimbal dan DDT.

Tapi teori Ras lebih menonjol di antara mereka semua karena telah mendatangkan penderitaan yang tak terhitung dan telah digunakan untuk membenarkan tindakan barbar kolonialisme, perbudakan, dan bahkan genosida. Bahkan saat ini itu masih digunakan untuk menjelaskan ketimpangan sosial, dan terus menginspirasi munculnya “politik sayap kanan” di seluruh dunia.

Kategori Ras manusia diciptakan oleh antropolog Johann Friedrich Blumenbach di abad kedelapan belas dalam upayanya untuk mengkategorikan kelompok “orang-orang baru” yang ditemui dan dimanfaatkan sebagai bagian dari kolonialisme Eropa yang terus berkembang saat itu.

Dari awal, sifat sewenang-wenang dan subjektif terhadap kategori Ras secara luas telah ada. Sebagian besar perbedaan Ras waktu itu dibenarkan atas dasar perbedaan budaya atau bahasa antara kelompok orang namun tidak berdasar pada faktor biologis.

Keberadaan mereka dipercaya sebagai sesuatu yang nyata hingga sampai abad kedua puluh ketika antropolog kemudian sibuk menulis tentang Ras dari sudut pandang biologis, perbedaan dalam psikologi, termasuk kecerdasan, pendidikan, dan sosial ekonomi antara kelompok masyarakat.

Namun, selalu ada banyak masalah tentang Ras dan bahwa kategori dan teori Rasial dalam prakteknya ternyata sangat sulit untuk diterapkan.

Salah satu kritikus terkenal terhadap teori rasial tersebut adalah antropolog Amerika Ashley Montagu yang menulis pada tahun 1941: “Telur dadar yang disebut ‘Ras’ tidak memiliki eksistensi di luar wajan statistik karena ia telah dikurangi panas dari imajinasi antropologis”.

Jika Ras saat ini nyatanya bergema oleh publik dan politik, apa yang para ilmuwan pikirkan tentang hal itu? Apakah ilmuwan, khususnya antropolog masih percaya bahwa Ras tetap berlaku?

Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 3.000 antropolog oleh Jennifer Wagner dari Geisinger Health System dan timnya–diterbitkan dalam American Journal of Physical Anthropology–memaparkan beberapa infromasi berharga terhadap pandangan dan keyakinan para ahli tersebut.

Mereka yang disurvei adalah anggota dari American Anthropological Association; badan profesional para antropolog yang terbesar di dunia.

Mereka diminta untuk merespon 53 pernyataan seputar topik Rasial seperti, apakah Ras itu ada jika ditentukan oleh faktor biologis? Apakah Ras memainkan peran dalam medis? Ras dan keturunan dalam pengujian genetik? dan apakah istilah Ras harus terus digunakan?

Paling mencengangkan yang terungkap adalah respon terhadap pernyataan, “Populasi manusia dapat dibagi menjadi ras biologis?”, dengan 86% responden sangat tidak setuju.

Pernyataan lain seperti, “kategori Rasial ditentukan oleh aspek biologis”, 88% sangat tidak setuju atau tidak setuju. Dan, “Kebanyakan ahli antropologi percaya bahwa manusia dapat dibagi ke dalam Ras berdasar aspek biologis”, 85% responden sangat tidak setuju atau tidak setuju.

Kita bisa mengambil kesimpulan dari studi ini bahwa ada konsensus yang terlihat antara antropolog: bahwa Ras tidak nyata, bahwa mereka tidak mencerminkan realitas biologis, dan yang paling antropolog tidak percaya ada tempat untuk Ras dalam ranah keilmuan.

Tapi terkubur dalam hasil survei, ada beberapa temuan yang berbeda jika mengacu pada antropolog dari kelompok “istimewa”–dalam konteks US disebut ‘putih’ — yang lebih menerima teori Ras sebagai sesuatu yang valid.

Para ilmuwan istimewa tersebut mewakili 75% dari antropolog yang disurvei. Kekuasaan dan pengaruh mereka bahkan sangat luas. Termasuk menentukan penelitian apa yang akan dilakukan, siapa yang mendapat pendanaan. Mereka juga melatih generasi antropolog berikutnya, publik figur, serta para ahli yang pendapatnya dicari untuk isu-isu seperti Ras.

Pesan yang dapat diambil dari kenyataan ini adalah jelas. Seperti yang lain, antropolog jauh dari kekebalan terhadap bias, terutama efek dari status sosial dan budaya dalam membentuk keyakinan kita pada isu Ras.

Ironinya mungkin, kita antropolog, sebagai sebuah disiplin, harus bekerja lebih keras untuk menantang diri kita sendiri memegang dan menanamkan cara pandangan ini. Serta untuk memberikan suara yang lebih besar bagi para ilmuwan yang berasal dari kelompok “non-istimewa”.

Dibalik itu, data survei jelas membuat pernyataan yang sangat kuat. Ini adalah penolakan yang sangat gemilang terhadap konsep Ras oleh para ilmuwan yang berasal dari disiplin ilmu yang menemukan sistem klasifikasi rasial itu sendiri.

Hal ini juga menandai penerimaan universal oleh antropolog selama dekade ini, berdasar bukti-bukti genetik, menunjukkan bahwa variasi manusia tidak dapat dikelompokkan untuk kategori-kategori yang disebut Ras.

Melangkah keluar dari menara gading saya, saya nyatanya tidak bisa melihat politisi atau masyarakat yang lebih luas akan mengadopsi pandangan untuk meniadakan konsep Ras dalam waktu dekat ini.