Apa Kabar Bhinneka Tunggal Ika, Lama Kita Tak Bersua
Published :

Hanya mengenal tidak sama dengan mengerti. Hanya tahu kemajemukan (pluralitas) tidak sama dengan menghargai, mengakui, memahami, dan menyakini kenyataan bahwa bangsa yang secara geografis terbentang dari Sabang sampai Merauke ini kaya akan beragam suku, budaya, agama, bahasa, warna kulit sampai dengan karakter manusianya.

Lebih dari 15.000 pulau ada di sini yang tersebar di sepanjang lintang khatulistiwa meluas hingga 5.120 kilometer. Indonesia, kurang lebih sama luasnya dari Roma di Italia hingga Mogadishu di Afrika Timur; dari Dublin di Irlandia sampai ke Bagdad di Irak.

Kemajemukan lantas merupakan realitas objektif yang tidak dapat dipungkiri oleh negara Indonesia. Itu fakta yang sama sekali tak bisa terbantahkan, sebuah kenyataan sejarah, dan kenistaan bagi mereka yang mengaku sebagai bagian dari bangsa ini.

Konsepsi Bhinneka Tunggal Ika bahkan sering digadangkan sebagai representasi normatif yang menjadi acuan dalam mengelola kemajemukan, sehingga perbedaan tersebut, kabarnya, mampu menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa.

Banyak yang menyerukan bahwa kini, lagi dan lagi, terjadi keganjilan atas rasa dan semangat kebersamaan yang dikisahkan sudah dibangun selama ini. Intoleransi dianggap semakin menebal dengan meningkatnya rasa benci dan saling curiga antara sesama–menggantikan kasih sayang, tenggang rasa, dan semangat untuk berbagi yang disebut lebih pantas menjadi ciri khas.

Beberapa bahkan berpendapat telah terjadi krisis multidimensi yang akarnya entah di mana. Melemahnya rasa kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai suatu bangsa disalahkan; menguatnya sikap permusuhan, bahkan lebih jauh munculnya sikap inferioritas golongan disesalkan.

Menipisnya semangat nasionalisme juga ditenggarai sebagai akibat dari lemahnya kemampuan bangsa kita dalam mengelola keragaman. Padahal bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah keragaman adalah keadaan objektif bangsa Indonesia?!

Bagaimana konsep persatuan dengan segala prakondisinya diterapkan dalam wilayah yang plural? Wacana ini kembali mencuat, kembali digali dari rahim-rahim pengetahuan. Seakan bangsa ini harus terus diingatkan, bahwa kita bukan baru merdeka kemarin pagi. Seakan sebaris kalimat yang di-genggam erat Garuda Pancasila hanya pemanis pijakan tempatnya bertengger.

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”—Soekarno

Sudah hampir seabad bangsa ini bernazar bahwa berpadu adalah keharusan karena tujuannya untuk persatuan dan kesatuan. Perkara pluralisme akan dimengerti sebagai keterlibatan aktif terhadap jati diri yang menjadikan Indonesia adalah Indonesia–bukan Eropa, Arab, Cina, atau India.

Wacana-wacana seperti ini sesungguhnya kembali menyadarkan kita, bahwa bangsa ini belum dewasa di usianya yang sudah renta. Para penggemar teori konspirasi tragisnya lebih memilih hanyut dengan wacana: Indonesia memang sengaja dibuat tetap sibuk dengan masalah klasik dunia ketiga. Lebih parah dari itu, politisi-politisi busuk dengan mudah mencambuki rasa takut kita tentang “rumah” yang akan segera hilang.

Lantas masalahnya di mana, hingga konsep pluralisme tersebut sukar diterjemahkan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara yang nyata, terutama dalam pengejawantahan pengertian “ketunggal-ikaan” yang tidak mematikan “kebhinnekaan” serta mencegah terjadinya satu unsur ke-bhinneka-an yang mendominasi?

Akarnya memang terlalu sulit diurai, tetapi pangkalnya jelas. Bahwa bangsa ini mudah sekali salah paham, mudah sekali dipecah belah, dan mudah sekali tersinggung.

Jika saja dalam sanubari timbul kesediaan untuk mengakui kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup, berbudaya, dan berkeyakinan yang berbeda untuk kemudian bersedia untuk hidup, bergaul, dan bekerja sama membangun kehormatan Indonesia, negara ini pasti akan menjadi lahan yang baik.

Di sekolah-sekolah negara hingga sekolah agama, setiap anak dipupuki ajaran bahwa “membuka diri” merupakan manifestasi dari kerendahan hati. Untuk tidak selalu merasa benar dan bersedia mendengarkan pendapat orang lain adalah bentuk dari kasih dalam kehidupan.

Ingin selalu dimengerti tanpa pernah memberi pengertian itu adalah egois. Toleransi hanya untuk minoritas terhadap mayoritas, itu adalah pemaksaan–jika tidak boleh disebut sebagai gila hormat.

Kelapangan dalam menghargai dan tidak terpancing untuk masuk dalam wilayah-wilayah yang bisa memecah belah adalah jalan. Untuk tidak membuat orang lain tersinggung, disanjung karena dapat memberi makna hidup damai. Terbelenggu oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang mengganggu keberagamaan, itu berarti sengaja menghancurkan.

Jika berhadapan dengan kenyataan di negara ini, menutup diri dan nyaman dengan kelompoknya masing-masing adalah memupuk perpecahan. Menjalin relasi dialogis yang cerdas, egaliter dan partisipatif justru itu yang harus dikedepankan.

Kita sama-sama sepakat bahwa pluralisme pun haruslah tidak diartikan sebagai membuat semua orang sama. Juga tidak berkaitan dengan pertanyaan mana yang baik dan benar dalam perkara keyakinan.

Kita dengan penuh kerelaan harus selalu dan akan terus menjunjung persatuan di atas perbedaan. Bahwa setiap masalah harus diselesaikan dengan saksama adalah pesan yang harus dilaksanakan. Sebelum sepakat, kita berpendapat guna mufakat hingga tak ada ruang untuk memaksakan kehendak.

Dengan demikian keberagamaan dapat dipandang sebagai kekayaan bangsa; tanpa menafikan bahwa kita memang berbeda. Dan hanya dengan demikian, kemajemukan menjadi relevan dan bermanfaat bagi semua manusia Indonesia yang bertujuan sama; bahu-membahu membangun bangsa.

Jika kita tidak pernah benar-benar segera sadar dalam urusan menghargai, mengakui, memahami, dan meyakini kemajemukan–sebagai kenistaan bangsa ini. Jika kita masih saja sibuk dengan peng-aku-an golongan, dan jika saja kita masih harus terus berkutat pada permasalahan nasionalisme dan persatuan, niscaya bangsa yang konon besar ini, tidak akan pernah lepas dari predikat tim penggembira di kancah dunia.

Konon kita punya setumpuk catatan sejarah yang mengabadikan momen kesadaran persatuan dalam perbedaan. Kabarnya kita punya banyak kenyataan luar biasa tentang nilai-nilai kerja sama yang hidup dalam kantung-kantung kearifan budaya. Apa semua kisah itu hanya dongeng pengantar tidur? Apa semua retorika itu hanya teman debu di perpustakaan kota?

***

Sebuah tempat dengan Kualitas hidup yang lebih baik adalah dambaan setiap manusia. Mereka yang mencarinya di bumi kerap menyebut tempat itu Utopia. Dari kata “ou” yang artinya ‘tidak ada’ dan dari kata “topos” yang berarti ‘tempat’; Utopia, tempat yang indah tapi tidak pernah ada.

Indonesia bukan Utopia tapi Indonesia bisa dan harus menjadi tempat bagi segala perbedaan berpadu-padan dalam ruang-ruang keharmonisan. Merangkul setiap perbedaan dalam satu tujuan, menjalin kerja sama lintas budaya dengan tetap memberikan ruang untuk perbedaan itu menjadi aset yang luar biasa.

Bukan kah pelangi itu indah karena beraneka warna?! Bukan kah perbedaan itu karunia Pencipta?!

Dan di tengah hiruk-pikuk politik di Ibu Kota yang luasnya hanya 0.03 % dari luas seluruh Indonesia, juga di tengah liputan media yang jarang menyuarakan kami yang ada di pelosok desa, Kita pun harus sadar bahwa musuh terbesar bagi cita-cita kemajuan ternyata bukanlah kebodohan, melainkan Egosentris!

Kawan, keluarlah dari tempurung dan lihat betapa beraneka ragamnya kehidupan di dunia ini.

Sejarah mencatat, dalam proses ingin dunia ini lebih baik, manusia kerap mengutuki zaman-nya. Masalahnya, kita adalah pengagum terbesar atas pemikiran kita sendiri. Untuk alasan yang sama, saya meminta maaf jika terdapat kata yang tak berkenan ada.