Sejak Zaman Batu, Manusia Telah Bertukar Teknologi
Published :

P
eneliti dari University of Bergen (UiB) dan University of the Witwatersrand dalam laporannya mengungkapkan bahwa sejak Zaman Batu, nenek moyang manusia telah bertukar teknologi. Pendapat itu sekurang-kurangnya merujuk pada temuan di situs Gua Blombos, situs pra-sejarah di Afrika yang telah dihuni sejak 100.000 tahun yang lalu.

Diketemukan pada awal 1990’an, situs Gua Blombos yang jaraknya sekitar 300 kilometer arah timur dari Cape Town, Afrika Selatan itu memang telah banyak memberi informasi- informasi penting bagi evolusi dan perilaku dari spesies manusia.

Dua peneliti dari UiB dan Witswatersrand; Emmanuel Discamps dan Christopher Stuart Henshilwood, bahkan telah cukup jauh dalam mengkaji situs Pra-sejarah itu.

Laporan yang mereka terbitkan di journals.plos.org akhir tahun lalu (14/12/2015),kedua peneliti itu melakukan pendekatan budaya dan teknologi serta peran keduanya untuk memahami evolusi manusia.

Mereka mencoba membandingkan temuan dari Gua Blombos—seperti mata tombak dan telur burung unta yang dihias—dengan beberapa temuan dari daerah lain di Afrika Selatan.

“Kami sedang mencari terutama di bagian Afrika Selatan di mana Gua Blombos terletak. Kami berusaha untuk mencari tahu bagaimana kelompok bergerak melintasi lanskap dan bagaimana mereka berinteraksi,” kata Christopher S. Henshilwood yang merupakan Profesor di UiB dan Witwatersrand.

Situs gua pertama kali digali pada tahun 1991. Penelitian dan penggalian secara teratur telah dilakukan dari tahun 1997 hingga detik ini.

Gua Blombos mengandung deposit alat-alat Batu dari periode Mesolitikum (Zaman Batu Madya); antara 100.000 dan 70.000 tahun. Sedangkan pada lapisan atasnya di isi oleh budaya yang lebih muda, antara 2.000 dan 300 tahun.

Bagaimana penghuni Situs Blombos melakukan kontak satu sama lain? Bagaimana hubungan antar-kelompok memengaruhi sebuah kelompok? Bagaimana pertukaran budaya—pertukaran simbolis dan pertukaran material—memengaruhi kelompok atau Antar-kelompok? pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dalam laporan ini, mereka ternyata beradaptasi dan berkembang.

“Pola yang kita lihat adalah bahwa ketika demografi berubah, mereka akan berinteraksi lebih sering. Sebagai contoh, kami telah menemukan ukiran yang sama pada telur burung di lokasi yang berbeda,” ungkap laporan itu.

“Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang mungkin berbagi budaya material dan simbolis, pada waktu tertentu tetapi tidak pada semua orang.”

Interaksi budaya material dan simbolik ini oleh penulis kemudian dijadikan informasi lebih jauh lagi, yaitu tentang perjalanan Homo sapiens—dari Afrika, ke Asia dan Eropa.

“Apa yang kita lihat [di gua Blombos] adalah pola yang sama yang membentuk orang-orang di Eropa ketika mereka menciptakan lukisan gua bertahun-tahun kemudian,” ungkap Henshilwood

Kontak antara budaya dalam kajian ilmu sosial memang merupakan salah satu faktor yang dapat memicu budaya baru.

Laporan ini sedikitnya juga memberikan gambaran bagaimana kelangsungan hidup dan perkembangan nenek moyang kita—Homo sapiens, manusia bijak.

“Hubungan antar-kelompok dan dinamika dari populasi, memungkinkan untuk mengadopsi dan mengadaptasi teknologi serta budaya baru. Itulah yang menggambarkan Homo sapiens,” tegas Henshilwood.