Tuo Nifaro: Minuman Tradisional Suku Nias
Published :

K
ita mengenal tuak sebagai minuman tradisional yang memabukkan. Namun konon masyarakat Nias mampu menyulap tuak menjadi tuo nifaro, bisa juga sebagai obat diabetes dan sebagai campuran minyak urut untuk mengobati stroke.
Tuo Nifaro, adalah minuman tradisional yang tersebar di kalangan masyarakat suku Nias. Tuo Nifaro merupakan hasil penyulingan dari tuak mentah yang berasal dari hasil fermentasi tetesan nira kelapa atau aren. Nira: air manis sadapan dari mayang enau/aren (pohon sejenis palem).

Proses pertama pada pembuatan Tuo Nifaro adalah menampung air nira pada mbu’u(bubung bambu tempat menampuing nira). Proses pengambilan nira ini biasanya dilakukan pada waktu möi zamölö (dalam pembagian waktu suku Nias, möi zamölö berarti penyadap aren pergi menyadap, sekitar pukul 05.00). Biasanya, untuk menunggu bilah-bilah mbu’u terisi oleh nira, dibutuhkan sekitar satu hari satu malam.

Jadi, pada dasarnya para penyadap kelapa atau aren ini menyimpan mbu’u pada pagi hari untuk kemudian diambil pada besok pagi, atau bisa juga siklusnya menjadi dua kali proses pengambilan, pagi dan sore. Menyadap: mengambil air (getah) dari pohon dengan menoreh kulit atau memangkas mayang atau akar.

Proses ini berlangsung hingga bunga kelapa atau aren tersebut tidak lagi mengeluarkan cairan. Satu pohon kelapa biasanya hanya dapat menghasilkan 4-5 liter nira dalam dalam dua kali penyadapan, tergantung dari usia pohon dan kesuburan pohonnya.

Kemudian, setelah nira tersebut diambil, proses selanjutnya adalah didiamkan selama satu malam untuk tahap fermentasi. Fermentasi yang terjadi pada nira tidak membutuhkan bakteri tambahan, karena di dalam nira kelapa atau aren sudah terkandung bakteri saccharomyces tuac. Biasanya, hasil dari proses fermentasi ini menghasilkan kandungan etanol sekitar 4-5%. Hasil fermentasi inilah yang biasa disebut tuak, atau orang nias menyebutnya sebagai tuo mbanua (tuak mentah).
Proses selanjutnya adalah penyulingan tuak mentah tesebut. Proses inilah yang membedakan tuo nifaro dengan khemr lokal lainnya. Proses penyulingan ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana, biasanya menggunakan kaleng yang dapat menampung sekitar 20 liter tuak mentah. Serta bambu sepanjang 5 meter untuk mengalirkan uap-uap hasil penyulingan tersebut ke dalam botol.

Proses penyulingan ini berlangsung sekitar 6 jam dengan nyala api kecil dan terus dijaga agar stabil. Tuak mentah dimasak dengan api yang tidak terlalu besar akan menghasilkan tuo nifaro dengan kualitas baik dan jernih. Uap yang mengalami proses kondenssi inilah yang menjadikannya sebagai tuo nifaro khas Nias.

Penyulingan; proses mendidihkan zat cair dan mengembunkan uap serta menampung embun di dalam wadah lain.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa hasil penyulingan tersebut langsung ditampung ke dalam botol. Botol pertama yang penuh inilah yang kemudian disebut Högö Duo, atau botol pertama. Högö Duo adalah kualitas terbaik dari hasil penyulingan tersebur.

Högö Duo tidak bisa langsung dikonsumsi, karena kadar alkoholnya terlalu tinggi. Tetapi biasanya Högö Duo digunakan sebagai obat diabetes dan sebagai campuran minyak urut untuk mengobati stroke.
Dari 20 liter tuak mentah, penyadap biasa menghasilkan satu botol Högö Duo dan empat botol tuo nifaro dengan kadar alkohol yang lebih rendah. Kemudian, kelima botol tersebut disatukan agar kadar alkohol yang dimiliki tuo nifaro merata dan dapat dikonsumsi.

Tuo nifaro awalnya adalah minuman yang disuguhkan pada upacara-upacara adat suku Nias atau untuk disuguhkan kepada tamu-tamu penting, atau minuman penghangat ketika tiba musim dingin.

Produksi tuo nifaro sekarang sudah sulit dijumpai di Nias. Keberadaan minuman beraklohol yang dilarang beredar di Indonesia, membuat produksi minuman ini berkurang meskipun masih ada beberapa yang masih setia menggeluti penyadapan nira ini.