Kaharingan, Agama Leluhur Orang Dayak
Published :

S
ebagian dari kita mungkin baru mendengar tentang Kaharingan apalagi jika kata itu disandingkan dengan kata “agama”.

Wajar, karena Kaharingan sebagai agama hanya dianut oleh masyarakat Dayak Meratus yang berada di Kalimantan Selatan, oleh Dayak Tunjung, Benuaq (Kalimantan Timur), Dayak Ngaju yang berada di Kalimantan Tengah, Dayak Luangan Ma’anyan, Tumon, dan Siang.

Kaharingan juga dianut oleh Dayak Uud Danum (Ot Danum) di Embalau dan Serawai (Kalimantan Barat) yang menggelar upacara penguburan kedua (Tiwah).
Kaharingan berasal dari bahasa Sangiang (Dayak kuno) Haring yang berarti hidup. Kaharingan dapat juga diartikan sebagai kehidupan yang abadi dari Ranying Mahatalla Langit..
Ranying, merupakan nama yang mengacu kepada Zat Tunggal Yang Mutlak. Dalam keyakinan Dayak Ngaju, Agama Kaharingan telah ada semenjak awal penciptaan, yaitu saat Ranying Hatalla Langit menciptakan semesta.

Sebagai kepercayaan, Agama Kaharingan memuat aturan bagi kehidupan. Nilai dan isinya bukan sekadar kungkungan adat-istiadat yang dirahasiakan sembari harus dilaksanakan, Kaharingan justru merupakan ajaran untuk berperilaku yang harus disampaikan secara lisan dan dimengerti secara menyeluruh.

Secara sepintas Agama Kaharingan sering dikaitkan dengan keyakinan yang mempercayai “banyak Dewa”. Seperti dewa yang menguasai tanah, dewa penguasa sungai, penguasa pohon, penguasa batu, dan dewa-dewa yang berkuasa di tempat atau kejadian lainnya. Akan tetapi, banyak yang tidak tahu kalau kepercayaan ini percaya kepada satu penguasa tertinggi.

Kaharingan; Pohon Kehidupan

Agama Kaharingan sering dilambangkan dengan Batang Haring atau Batang Garing yang berarti Pohon Kehidupan. Pohon Kehidupan ini memiliki makna filosofis keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Sebuah triangulasi.

Pohon Batang Haring dengan Balanga atau Kataladah (guci/pot/wadah) itu menyimbolkan dua dunia yang berbeda tetapi terikat oleh satu kesatuan yang berhubungan dan membutuhkan. Dunia atas dilambangkan dengan pohon dan dunia bawah yang dilambangkan melalui guci.

Sementara buah yang terdapat pada Batang Haring itu melambangkan kelompok besar dari umat manusia. Buah Batang Haring yang menghadap arah atas dan bawah adalah pengingat bagi manusia agar senantiasa menghargai dua sisi yang berbeda dengan seimbang.

Tempat bertumpu Batang Haring dinamakan Pulau Batu Nindan Tarung. Pulau tempat kediaman manusia pertama kali sebelum diturunkan ke bumi.

Di bagian puncaknya terdapat burung enggang dan matahari yang merupakan lambang-lambang dari Ranying Hatalla Langit, sumber segala kehidupan. Dengan demikian manusia diingatkan bahwa dunia yang sekarang ini adalah tempat tinggal sementara karena tempat asal manusia yang sebenarnya berada di dunia atas, Lawu Tatau.

Kaharingan dalam Perjalanan Sejarah-nya

Dahulu, orang-orang non-Dayak menyebut agama Kaharingan sebagai agama Dayak atau agama Tempon, “agama heiden” dan jugaagama helo”. Nama Kaharingan baru populer pada pertengahan abad ke-20.
Pemerintah Kolonial Belanda dalam menyikapi agama Kaharingan erat kaitannya dengan strategi penguasaan wilayah Kalimantan yang memiliki hasil bumi yang melimpah. Orang-orang Belanda itu tahu betul hukum adat orang Dayak yang tanpa pandang bulu akan menjaga wilayahnya dari para pendatang yang dinilai merusak alam mereka.

Pemerintah Belanda atas dasar keamanan dan keselamatan, dan juga kepentingan politik-ekonomi, melakukan pendekatan etik dan halus dengan maksud terselubung terhadap tetua adat, sesepuh, tokoh masyarakat, damang (kepala adat), pisur, dan lainnya di berbagai komunitas Dayak.

Salah satu diantara pendekatan halus pemerintah Kolonial Hindia-Belanda adalah melalui proyek misionaris, “missi Zending”. Melalui para misionaris ini pemerintahan Kolonial melakukan taktik penghapusan ritual-ritual Kaharingan.
Pada zaman Jepang, pendekatan yang dilakukan sangat bertolak belakang dengan yang telah dilakukan kolonial Belanda. Untuk menarik simpati dan juga dukungan dari masyarakat Dayak, pemerintah militer Jepang bahkan menyatakan agama Kaharingan ada kaitannya dengan agama Shinto.Pemerintahan Jepang di Indonesia memberikan penghormatan kepada kepercayaan Kaharingan dan memberikan apresiasi sebagai bagian dari peradaban dan kebudayaan lokal.

Maka dari itu, pada zaman Jepang lah pertama kali agama orang Dayak ini diterima keberadaannya sebagai agama dan bahkan oleh militer Jepang dijadikan partner serius mereka dalam menangani masalah kebudayaan setempat. Tidak tanggung-tanggung konon pemerintah militer Jepang juga membuat semacam pusat penelitian bernama Bagian Penyelidik Adat dan Kebudayaan Kalimantan sebagai langkah guna mengetahui seluk-beluk keagamaan serta kebudayaan Dayak.
Pada masa pemerintahan Indonesia. keberadaannya yang sejak ribuan tahun silam, sebagai salah satu kepercayaan yang cukup tua di Nusantara yang bahkan diakui oleh Pemerintah Jepang, ternyata pasca Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Kaharingan tidak mendapat tempat alias tidak diakui oleh pemerintah Indonesia. Hingga kini telah lebih dari 68 tahun meredeka, Pemerintah Indonesia belum dapat memberikan pengakuan resmi terhadap Kaharingan sebagai “agama”.

Pada tahun 1979 pemerintah menetapkan sebuah kebijakan bahwa dalam pengisian KTP (Kartu Tanda Penduduk), untuk kolom “agama” selain Islam, Kristian, Buddha, dan Hindu, harus diisi dengan tanda strip (-) yang berarti bukan penganut agama, tapi hanya aliran kepercayaan.

Tahun 20 Februari 1980 para penganut Kaharingan “dipaksa” berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemerintah Indonesia pada masa itu mewajibkan penduduknya untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia.
Kaharingan–dan juga beberapa religi suku lainnya–kemudian “dimasukkan” dalam kategori agama Hindu karena dinilai adanya persamaan dalam tatacara beribadahnya. Penyamarataan ini konon juga dikarenakan karena Hindu adalah agama tertua di Kalimantan dan mempunyai kedekatan sejarah dengan wilayah itu.

Tapi ini ternyata samasekali tidak menyelesaikan masalah, dan bahkan membuat masalah baru, Karena secara mendasar dan dalam praktiknya, Kaharingan tak sama dan jauh berbeda dengan Hindu.

Sehingga secara faktual di lapangan, penggabungan Hindu dan Kaharingan tak pernah bisa terjadi. Secara sadar umat Kaharingan memisahkan diri dari umat Hindu, dan tak pernah menganggap bahwa Kaharingan adalah serupa atau bagian dahi Hinduisme.

Perlahan namun pasti meskipun tidak mempunyai “status yang jelas”, Kaharingan nyatanya mampu berdiri sendiri hingga mempunyai tempat ibadah “resmi” yang dinamakan Balai Basarah (Balai Kaharingan). Pada tahun 2006 tercatat ada 212 Balai basarah.

Kitab-kitab suci agama mereka pun disusun dan diberi nama Panaturan, Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (tatacara berdoa), Pemberkatan, Perkawinan, dan Buku Penyumpahan atau Pengukuhan (Pengambilan sumpah pengukuhan jabatan).

Juga mereka bisa mendefinisikan waktu ibadah rutin dari Agama Kaharingan yang biasanya dilakukan setiap hari Kamis atau pada malam Jumat. Sedangkan untuk hari raya merujuk pada ritual penting agama Kaharingan yaitu upacara Tiwah dan Basarah.
Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah mencatat ada sekitar 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia. Ada pun organisasi para pemuka agama Kaharingan disebut Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) yang berpusat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Kekinian, penganut Kaharingan kembali harus memperjuangkan haknya agar kepercayaan yang telah mengakar bergenerasi itu diakui sebagai agama di Indonesia.

Kaharingan Terancam “Ditinggalkan”

Kaharingan sendiri berarti “tumbuh” atau “hidup”. Bagi mereka penganutnya, agama Kaharingan dipercaya telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.

Kedatangan agama-agama baru itu lah yang mendorong Kaharingan dipandang sebagai agama helo atau “agama lama”, agama huran “agama kuno”, atau agama tato-hiang “agama nenek-moyang”.

Seperti keyakinan-keyakinan “asli” lainnya di Nusantara, ajaran-ajaran dari agama Kaharingan memang tidak dikembangan untuk dituangkan dalam kitab suci, melainkan tersebar melalui tradisi bertutur yang disampaikan tetuha adat atau mereka yang memang dianggap memiliki kemampuan untuk hal itu

Agama Kaharingan yang dianut Dayak Meratus (Kalimantan Selatan) bahkan dinyatakan terancam kehilangan tempatnya. Jumlah tetuha adat Dayak Meratus yang dinilai menguasai dan dapat menuturkan ajaran-ajaran Kaharingan jumlahnya makin sedikit

Agama Kaharingan Dayak Meratus masih dituturkan secara khusus oleh orang-orang yang terpilih dan konon tidak semua orang bisa dan bahkan mampu mempelajarinya.

Selain itu, pada masyarakat adat Dayak Meratus memang tidak ada guru yang bertugas secara khusus dalam memberikan pelajaran Kaharingan secara berkesinambungan. Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan Tengah. Di Kota Palangkaraya telah berdiri sekolah khusus agama Kaharingan.