Upacara Labuhan Kesultanan Yogyakarta
Published :

U
pacara labuhan merupakan salah satu upacara adat yang sejak jaman kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang masih diselenggarakan secara teratur dan masih berpengaruh dalam kehidupan sosial penduduk di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masyarakat meyakini bahwa dengan upacara labuhan secara tradisional akan terbina keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat dan negara. Meskipun yang menyelenggarakan upacara labuhan adalah keraton, namun dalam pelaksanaannya di lapangan, rakyat juga turut serta.

Masyarakat merasa ikut memiliki upacara adat itu dan menganggap upacara labuhan adalah suatu kebutuhan tradisional yang perlu dilestarikan.

Sejak berdiri Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755, maka salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono I adalah melakukan upacara-upacara adat kraton sebagaimana yang dilaksanakan oleh para raja Mataram terdahulu.

Upacaraupacara adat kraton tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dan kehidupan kraton. Upacara-upacara tersebut sekaligus merupakan sarana tradisional untuk memperoleh keselamatan, kesejahteraan raja, kerajaan beserta seluruh rakyatnya.

Salah satu upacara kraton yang dilaksanakan oleh para Sultan sejak Sultan Hamengkubuwono I adalah upacara adat yang dalam istilah Jawa disebut labuhan. Upacara ini biasanya dilaksanakan di empat tempat yang letaknya berjauhan.

Masing-masing tempat itu mempunyai latar belakang sejarah tersendiri sehingga pada. masingmasing tempat tersebut perlu dan layak dilakukan upacara labuhan.

Tempat yang pertama ialah Dlepih, disebut juga Dlepih Kahyangan, terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah.

Tempat yang kedua adalah Parangtritis, di sebelah selatan kota Yogyakarta, di tepi Lautan Indonesia (Laut Selatan).

Tempat yang ketiga ialah di Puncak Gunung Lawu, di perbatasan Surakarta dan Madiun, yang membatasi daerah Jawa Tengah dan daerah Jawa Timur.

Tempat yang keempat adalah di Puncak Gunung Merapi, letaknya termasuk wilayah Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Labuhan merupakan ungkapan tradisional yang bersifat religius dalam bentuk upacara adat kraton. Upacara labuhan tersebut merupakan pemberian atau persembahan (pisungsung-Jw) yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, sesuai dengan kepercayaan bahwa di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa penting yang berkenaan dengan para leluhur raja.

Parangtritis di pantai Selatan adalah tempat Panembahan Senopati mendarat dari dalam lautan setelah menjalin hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Puncak Gunung Lawu adalah tempat Prabu Kertabumi Brawijaya V dan Raden Gugur bertapa sampai akhir hayatnya. Kahyangan Dlepih konon tempat Panembahan Senopati bersamadi dan memperoleh wangsit untuk menduduki tahta Kerajaan Mataram.

Puncak Gunung Merapi adalah tempat Prabu Jaka bertapa dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Di Gunung Merapi itu pula bersemayam tokoh-tokoh makhluk halus yang ikut menjaga keselamatan kraton dari bahaya bencana alam letusan Gunung Merapi.

Upacara pemberian atau persembahan yang dikaitkan dengan para leluhur dan makhluk-makhluk halus tersebut jelas merupakan kultus leluhur, animisme dan dinamisme. Pada prakteknya kemudian upacara itu dipadukan dengan unsur-unsur agama Islam, yaitu dengan diiringi doa dan selawat

Ada mantera-mantera yang diucapkan dalam bahasa Arab dan menurut kaidah-kaidah yang berlaku. Ada pula yang dibacakan dengan ucapan yang bercampur baur antara bahasa Jawa dan Arab.

Upacara labuhan yang bersifat religius ini hanya boleh dilakukan atas titah serta atas nama raja sebagai kepala kerajaan, kepala pemerintahan dan pemangku adat keraton. Tahap-tahap persiapan yang dilakukan di dalam kraton, segala sesuatunya hanya dikerjakan oleh para sanak keluarga saja, dibantu oleh para punggawa kraton.

Pada pelaksanaan di luar kraton sampai ditempat-tempat upacara labuhan, harus dengan tata cara protokoler yang ketat. Juru kunci adalah pelaksana yang bertindak atas nama raja. Ia juga adalah punggawa kra ton yang diangkat dari kalangan rakyat setempat.

Juru kunci diberi hak untuk memiliki benda-benda yang telah selesai dilabuh, tatapi seringkah juga benda-benda tersebut diperebutkan oleh para pembantu juru kunci tersebut.

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan secara resmi dalam rangka peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

1). Penobatan Sultan;

2). Peringatan hari Ulang Tahun Penobatan Sultan yang disebut “Tingalan Panjenengan” atau “Tingalan Dalem Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan”;

3). Peringatan hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap delapan tahun.

Selain dari ketiga rangka peristiwa di atas, upacara labuhan dapat juga diselenggarakan untuk memenuhi hajat tertentu dari Sri Sultan, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.

Jadwal upacara labuhan menurut tradisi Kraton Yogyakarta tidak bersifat mutlak. Artinya jika seorang Sultan hendak melakukan sesuatu perubahan jadwal upacara Labuhan karena sesuatu hal yang beralasan, maka hal tersebut dapat saja terjadi. Bahkan jika keadaan tidak memungkinkan, upacara labuhan dapat pula tidak dilakukan, misalnya jika negara dalam keadaan perang

Benda-benda yang akan dilabuh harus dipersiapkan sebelumnya dengan sangat teliti, jangan sampai ada yang salah dan ketinggalan. Benda-benda yang terbuat dari sandang antara lain: kain batik, kain lurik, kain sutera (cinde), kain kampuh dan kain mori polos.

Selain itu, ada juga penutup dada wanita (kemben-Jw), ikat kepala dengan berbagai motif. Ada pula motif tertentu dari kain batik yang dianggap mengandung nilai sakral, yaitu motif kain yang disebut “cangkring”. Motif ini harus dikerjakan oleh orang tertentu, yaitu wanita tua yang sudah tidak mengalami masa haid lagi

Beberapa hari menjelang pelaksanaan upacara labuhan, Sri Sultan menyerahkan guntingan-guntingan kuku dan guntingan-guntingan rambut untuk ditanam di tempat-tempat tertentu di pantai Parangtritis. Pakaian-pakaian bekas Sri Sultan harus ditanam di tempat itu

Benda-benda dan bahan-bahan lain yang dipersiapkan untuk: kemenyan, bahan kosmetika tradisional, ‘konyoh’ minyak wangi, rokok klobot wangi, tikar, nampi, bubuk dupa (cupu), pundi-pundi (kampek), mata uang dan beberapa tempat khusus untuk minyak wangi, atau bubuk dupa.

Selain benda-benda ini masih banyak lagi benda kelengkapan lain yang menyertai persiapan suatu upacara labuhan, seperti benda-benda sesaji dan pusaka-pusaka kraton

Benda-benda labuhan beserta kelengkapannya dibawa ke tempat upacara dengan suatu prosesi yang ketat. Dahulu sebelum ada kendaraan mobil atau kereta api, benda-benda tersebut dibawa dengan cara diusung dengan berjalan kaki.

Pada masa sekarang masalah transportasi tidak menjadi penghambat lagi. Bahkan untuk upacara labuhan di pantai Parangtritis kendaraan sudah bisa masuk mencapai tepian pantai.

Tidak mengherankan jika upacara tradisional yang langka ini banyak menarik minat wisatawan untuk menyaksikannya. Suasana khidmat upacara, keberanian para pembantu juru kunci melaksanakan labuhan di lautan serta keramaian masyarakat memperebutkan benda-benda labuhan, semakin membuat acara labuhan menjadi menarik disaksikan.

Upacara labuhan tidak saja telah memenuhi ketentuan tradisi yang dijunjung tinggi, tetapi sekaligus juga merupakan obyek wisata yang sangat dikagumi oleh para wisatawan.