Kapurut Sagu, Kuliner Khas Mentawai
Published :

C
ara memakan kapurut bisa saja menggunakan lauk seperti ikan atau sayur daun singkong. Selain itu juga bisa dimakan sambil minum kopi atau teh atau bahkan dimakan begitu saja tanpa ada lauk pauk.

Di provinsi Sumatera Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

Secara turun temurun, makanan pokok masyarakat Mentawai adalah sagu. Di Pulau Siberut, masyarakat biasa mengolah sagu sendiri. Sagu yang sudah matang (minimal panjang batang sekitar 6 meter) mereka tebang dan bagian dalamnya mereka parut atau istilah mereka pasigundui sagu.

Setelah sagu jadi serpihan dengan menggunakan bolokbok (semacam keranjang, mereka angkat dan dimasukkan ke pengolahan sagu. Disini serbuk batang sagu mereka campur air dan dialirkan ke penampungan pengendapan.

Untuk pengendapan biasa mereka gunakan sampan yang sudah tidak dipakai lagi. Setelah sari serbuk sagu mengendap, mereka kumpulkan dan dimasukkan ke tappri yang mereka buat dari daun sagu. Selanjutnya dibawa pulang dan diproses sebagai bahan makanan.

Salah satu bentuk lain dari mengolah sagu, masyarakat Mentawai membuat kapurut sagu yang biasa dilakukan oleh masyarakat Mentawai bagian Siberut Selatan. Kapurut sagu merupakan makanan pokok bagi sebagian warga Siberut Selatan yang tinggal di pedalaman. Kapurut Sagu biasa dihidangkan untuk acara-acara tertentu yaitu acara pernikahan, upacara keagamaan dan perayaan hari raya masyarakat Mentawai setempat.

Untuk membuat Kapurut Sagu terbilang murah. Semua perlengkapan yaitu daun sagu sampai tepung sagu. Ada dua macam makan khas kapurut sagu masyarakat Mentawai.

Pertama, kapurut sagu tanpa dicampur bahan lain, dan kedua, kapurut sagu yang dicampur dengan bahan lain, seperti kelapa dan garam. Kapurut Sagu jenis pertama merupakan sagu yang dijadikan makanan pokok biasanya ditambah dengan ikan rebus. Kapurut jenis kedua biasanya menjadi hidangan sarapan.

Cara mengolah kapurut sagu masyarakat Mentawai adalah langkah pertama membuat kapurut adalah mempersiapkan daun sagu yang bersih dan tidak muda maupun tidak tua. Sebagian daunnya disobek yang digunakan untuk melilit bungkus sagu.

Tepung sagu yang sudah ada disaring dengan alat penyaring khas Mentawai yang dinamakan gogotjai. Untuk menyaring tepung sagu agar tidak gumpal. Lalu, mengukur kepala seperlunya, mengukur kepala ini memakai gigiok.
Gigiok tebuat dari dahan ruyung yang durinya sudah potong-potong. Setelah itu, tepung sagu mentah diberi garam sesuai ukuran banyak tepung sagu, dicampur, ambil satu helai daun sagu lalu diletakkan sagu yang dicampur ke daun sagu yang utuh. Setelah itu dibungkus, maka jadi kapurut.

Kapurut yang sudah dibungkus masih harus dibakar dengan kayu bakar dan perapian. Lama membakar kapurut sekitar 30 menit. Setelah itu baru bisa dimakan.

Biasanya kapurut Sagu memiliki ukuran panjang 40 sentimeter seukuran ibu jari orang dewasa, bagian luar dilapisi daun sagu warna hitam hangus setelah dibakar, setelah dibuka di dalamnya terkandung tepung sagu yang mulai keras warna coklat muda. Inilah kapurut (bungkus) sagu khas Mentawai, Sumatera Barat.