Arat Sabulungan; Kepercayaan Orang Mentawai
Published :

O
rang Mentawai memiliki kepercayaan tentang kesaktian yang dimiliki oleh roh leluhur mereka. Kepercayaan yang disebut Arat Sabulungan. Arat berarti adat dan Sabulungan berarti buluh/daun.

Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma. Suatu Uma merupakan bangunan yang besar dan megah.

Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu.

Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut adat.

Masyarakat Mentawai memiliki pandangan agama atau kepercayaan tentang kesaktian yang dimiliki oleh roh leluhur nenek moyang (Ketsat) mereka. Kepercayaan itu dalam masyarakat Mentawai disebut Arat Sabulungan. Arat berarti adat dan Sabulungan berarti bulu/daun

Agama ini memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Adapun saat ini masyarakat Mentawai sudah banyak yang memeluk agama lain seperti Islam dan Kristen.

Dalam pemahaman masyarakat Mentawai, Arat Sabulungan berarti bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda memiliki jiwa. Selain jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, seperti di laut, udara, dan hutan belantara.
Dalam konsep keagamaan yang mereka kenal ada beberapa diantaranya yaitu Simagre, nama yang berhubungan dengan kegaiban yaitu roh yang menyebabkan orang hidup.
Sabulungan yaitu roh yang keluar dari tubuh terkadang dianggap keluar sebentar (misalnya ketika sedang terkejut). Ada juga roh yang tidak pergi jauh dari tempat tinggal manusia seperti di bumi, dalam air, udara pepohonan besar, di gunung, di hutan dan sebagainya. Bahkan didalam uma terdapat satu roh penjaga yang disebut kina.
Selain itu masyarakat juga meyakini bahwa roh jahat yang kerjanya menyebarkan penyakit dan mengganggu manusia, roh ini disebut sanitu. Sanitu berasal dari roh manusia yang matinya tidak wajar (gentayangan) seperti mati bunuh diri, dibunuh, kecelakaan (misalnya jatuh dari pohon) dan mati karena sakit yang tak kunjung sembuh.
Selain itu, masyarakat Mentawai meyakini bahwa jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kepala. Saat orang tersebut tidur maka jiwa tersebut akan sering berpetualang-mimpi.

Ketika jiwa tersebut keluar dan bertemu roh jahat maka tubuh orang tersebut akan sakit. Jika tubuh meminta pertolongan pada leluhur maka tubuh akan meninggal, jiwa tidak akan lagi masuk ke tubuh dan menjadi ketcat (roh). Saat jiwa sudah menjadi roh, tubuh tetap memiliki jiwa yaitu pitok.

Masyarakat Mentawai “takut” terhadap pitok karena pitok dipercaya mencari tubuh lain agar tetap berada di bumi. Untuk mengusir pitok masyarakat mentawai banyak menggelar upacara

Ada dua keyakinan masyarakat Mentawai dalam agama kepercayaan Arat Sabulungan yaitu keyakinan akan adanya hubungan gaib antara hal-hal yang walaupun beda fungsi, mirip wujud, warna, atau bunyinya. Kedua keyakinan adanya kekuatan gaib yang sakti tapi tidak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia.

Dalam kepercayaan masyarakat Mentawai terdapat masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara; masa Lia dan Punen. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka–keluarga inti, dan biasanya–menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu.
Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati.

Dalam melaksanakan Lia atau Punen, masyarakat tidak boleh “bekerja”. Bahkan saat ada kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun. Aktivitas makan dan minum masih bisa dilakukan.