Gegedi Pacih (Engklek); Permainan Tradisional Aceh
Published :

P
ermainan Gegedi Pacih (Engklek), terbuat dari lempengan kayu. Alat permainan ini ada juga yang terbuat dari biji-bijian dan dari batu. Permainan tradisional Aceh ini sering dilakukan pada saat pagi dan sore hari dimusim kemarau.

Menurut Dr. Smpuck liur gronje; permainan tradisional Aceh ini berasal dari Hindustan dan dibawa/diperkenalkan oleh orang-orang Keling.
Permainan ini secara umum pesertanya adalah anak perempuan berumur sekitar 12 tahun, karena permainan ini terlalu statis (tidak terlalu banyak gerak) sesuai dengan kodrat perempuan.

Cara bermain dilakukan secara perorangan. Sarana Permainan ini adalah lapangan yang tidak berumput atau yang agak berdebu. Masing-masing peserta menggunakan sebuah lempengan papan atau balu yang berbentuk bulat/ceper (buah). Setiap permainan terdiri dari 2 – 3 orang

Aturan Permainan;
– Setiap pemain memiliki sebuah batu/papan permainan (yang selanjutnya disebut “buah” saja).
– Batu tersebut diletakkan di petak I. sebelum dan sewaktu permainan dimulai.
– Petak yang ada buah (kepunyaan sendiri atau lawan) lidak boleh diinjak.
– Petak M adalah petak istirahat untuk setiap pemain dan kaki keduanya boleh
– menginjak petak tersebut, sedangkan di petak-petak lain hanya sebelah yang dibenarkan

Bintang lawan tidak boleh diinjak dan buah tidak boleh dibuang ke dalamnya. (Bintang adalah petak hak milik seseorang yang diperoleh dengan perjuangan. Pemilik bintang boleh menjatuhkan kaki keduanya di bintangnya masing-masing).
Buah dianggap sah bila lemparan memasuki petak sesuai dengan urutan yang teratur. Permainan mati bila buah keluar garis, atau salah petak, atau kaki menginjak tanah keduanya tidak pada tempat yang dibenarkan

Buah yang dilempar tidak boleh mengenai buah lawan. Kita misalkan ada 3 pemain yaitu A, B, dan C dan gilirannyapun kita misalkan pertama = A, kedua = B dan ketiga adalah C. Pemenang adalah pemain yang paling banyak bintangnya.