Mengenal Para Opo Tanah Minahasa
Published :

S
ebelum kedatangan Kristen dan agama-agama baru ke Tanah Minahasa, orang Minahasa memiliki keyakinan bercorak animisme-dinamisme yang tertuang dalam konsep penyembahan terhadap Dewa-Dewi penghuni alam sekitar, atau yang biasa disebut Opo.

Berikut adalah nama dan karakteristik dari para Opo Tanah Minahasa, serta karakter spiritual mereka, sebagaimana yang disarikan dari buku Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara (1983) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:
1. Opo Wailan Wangko atau Opo Empung Wangko yang berarti penguasa tertinggi dalam struktur keyakinan orang Minahasa, yang dalam perkembangannya diasosiasikan dengan Tuhan Allah.

2. Para leluhur atau dotudotu, seperti Opo Lumimuut, Opo Toar, Opo Karema, Opo Rengan, dan yang lainnya yang diangga sebagai nenek moyang orang Minahasa.

3. Para Opo dari setiap kerabat, seperti Opo Sigar, Opo Supit, Opo Sigarlaki, Opo Tololiu, Opo Rumbayan, Opo Maringka, dan lain-lain.

4. Para Opo penunggu gunung, seperti Opo Soputan, Opo Kalabat, Opo Lokok, Opo Dua Saudara, dan masih banyak lagi.

5. Para Opo penunggu sungai, seperti Opo Ranoyapo, Opo Poigar, Opo Rancake, dan lain-lain.

6. Para Opo penunggu mata air, seperti Opo Muung, Opo Kumelembuai, Opo Tutuasan, Opo Ranolambut, Opo Lelendongan, dan lain-lain.

7. Para Opo penghuni bahwa tanah, seperti salah satunya Opo Si Owkurur.

8. Para Opo penghuni pantai/laut, seperti Opo Benteng, Opo Pisok, Opo Pulisan, Opo Bentenan.

9. Opo Hujan, yakni Opo Naharo/Nuran.

10. Opo penguasa mata angin, seperti Opo Talikuran, Opo Sendangan, Opo Tihimu, dan Opo Amien.

Selain para Opo, orang Minahasa juga mengenal sejumlah roh halus. Berikut adalah beberapa karakter roh halus yang ada dalam konsep keyakinan adat suku bangsa Minahasa:
1. Mukur, ialah arwah dari orang yang sudah meninggal. Dalam konsep keyakinan orang Mianahasa, sebelum arwah dari orang meninggal menghadap Empung Wangko, selama 40 hari sejak kematiannya, dia bergentayangan, dan terkadang mengngangu manusia-manusia yang masing hidup.

2. Pontianak, yakni arwah wanita yang mati dalam keadaan hamil atau melahirkan. Mahluk ini dikenal sebagai suka mengganggu dan ditakuti oleh manusia yang masih hidup. Asal-muasal keusialannya menggangu manusia, konon karena ia tidak rela mati dan ingin hidup kembali.

3. Pokpok atau Suangi, yakni sejenis drakula yang suka menghisap darah manusia yang maih hidup, terutama wanita-wanita yang sedang hamil atau seusai melahirkan. Pokpok diyakini sebagai sukma dari orang yang masih hidup, yang demi menjaga kesaktiannya, dia harus terus meminum darah. Pokpok dideskripsikan sebagai mahluk yang hanya memiliki kepala dan usus, dan berpindah tempat dengan cara terbang.

Selain tiga contoh mahluk halus di atas, masih ada sejumlah yang lainnya, seperti Penunggu, yakni sebangsa setan penghuni pohon, goa, dan tempat-tempat angker lainnya, Lalu, yakni setan penungu hutan, dan Jin, yakni mahluk halus yang bisa jadi suruhan manusia manusia, terutama oleh dukun, untuk berbuat jahat pada manusia lainnya.

Kendati kini mayoritas penduduk Minahasa memeluk agama monoteisme, terutama Kristen, keakraban mereka dengan para Opo dan roh halus lainnya, serta legenda mereka masing-masing masih tetap terjaga.