Kesinambungan Cerita Binatang di Indonesia
Published :
Oleh: Ashar. M

karena terprovokasi oleh kata-kata serigala yang ada di bawah, kura-kura pun menjadi marah dan berusaha membalas makian serigala. Namun kura-kura lupa bahwa dia sedang menggigit dahan pohon yang dibawa oleh bangau. Alhasil jatuhlah kura-kura itu dan menjadi rebutan oleh para serigala.

Kisah di atas adalah sepenggal cerita binatang yang dulu kita dengar dari para orang tua kita sebagai pengantar tidur. Dan tahukah kalian bahwa cerita binatang ini ternyata sudah ada semenjak masa Klasik (kerajaan Hindu-Budha) di Indonesia? Artikel ini sedikit banyak akan membahas tentang keberadaan cerita binatang atau fabel ini di Indonesia.

Keberadaan Pengaruh India di Indonesia

Berdasarkan pada tinggalan tertua diketahui bahwa pengaruh India masuk pertama kali pada sekitar abad IV-V Masehi. Pada masa awal tersebut pengaruh dari budaya India belum begitu tampak, barulah pada abad VII-IX Masehi mulai bermunculan pusat-pusat kerajaan Hindu-Budha di Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa.

Dalam perkembangannya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia dibagi dalam dua periode yaitu Periode Jawa Tengah dan Periode Jawa Timur. Pembagian Periode ini didasarkan pada kuat lemahnya pengaruh India. Pada periode Jawa Tengah pengaruh budaya India sangatlah dominan sedangkan pada periode Jawa Timur pengaruh budaya India sedikit demi sedikit mulai digantikan posisinya dengan budaya lokal.

Tinggalan Budaya

Di negara kita ini banyak kita jumpai tinggalan-tinggalan budaya yang merupakan pengaruh dari India, sebut saja candi. Seni bangun ini merupakan masterpiece dari kebudayaan India karena merupakan tempat dilaksanakannya upacara keagamaan bagi masyarakat Hindu dan Budha pada masa lampau.

Selain itu keindahan seni arsitekturnya pun selalu membuat kita merasa bangga karena leluhur-leluhur kita ternyata mampu menghasilkan tinggalan materi yang sangat menawan.

Bangunan candi merupakan tempat berlangsungnya upacara keagamaan bagi masyarakat Hindu maupun Budha. Oleh karena itu bangunan candi ini haruslah megah dan memiliki banyak hiasan. Seni hias yang ada pada bangunan candi merupakan gabungan dari berbagai aspek yang masuk sebagai suatu bagian dari sistem keagamaan.

Seni Hias Relief

Kawan Arupa pasti pernah mengunjungi candi yang ada di Indonesia. Dan ketika kita masuk kedalam candi kita akan disuguhi oleh pahatan-pahatan yang ada di dinding candi. Apabila kita perhatikan secara seksama pahatan-pahatan tersebut ada yang membentuk suatu alur cerita. Itulah yang disebut dengan relief.

Secara umum relief ini dipahatkan pada bagian candi yang mudah dilihat oleh manusia sehingga tak jarang relief ini dipahatkan pada dinding candi serta pada tangga masuk candi. Keberadaan dari relief merupakan unsur pelengkap dari aspek keagamaan yang ada pada bangunan candi itu sendiri.

Cerita Pada Relief

Cerita relief yang dipahatkan pada candi dapat berasal dari beberapa sumber antara lain adalah:

Refleksi dari ajaran agama yang dianut oleh masyarakat sekitar candi.

Berasal dari karya sastra yang populer pada masanya, misal Ramayana dan Mahabharata.

Sejarah kehidupan tokoh yang menjadi objek pemujaan, misalnya perjalanan hidup Sang Budha.

Relief Binatang Pada Candi

Keberadaan relief yang bercerita tentang binatang di Jawa Tengah dapat kita jumpai di Candi Mendut dan Candi Sojiwan. Untuk candi-candi di Jawa Timur dapat dijumpai pada Candi Gambar, Candi Jago, Candi Jawi, Candi Menak Jinggo, Candi Ngampel, Candi Panataran, Candi Rimbi, Candi Selokelir, dan Candi Surowono. Sumber cerita relief binatang ini adalah cerita Jataka dan Pancatantra serta Tantri Kamandaka.

Relief binatang ini disebut juga dengan relief tantri. Relief tantri merupakan sebuah cerita yang digambarkan dalam bentuk binatang dimana dalam cerita tersebut terdapat pesan tersembunyi yang ingin disampaikan kepada para pembaca relief.

Dipilihnya binatang sebagai tokoh utama dalam cerita ini dimaksudkan supaya pembaca dapat dengan mudah mencerna isi pokok cerita yang disampaikan. Relief cerita tantri ini berisi tentang pembelajaran kebijaksanaan dan moral, termasuk didalamnya adalah hukum kepada manusia.

Pada masa lampau fungsi dari relief tantri ini adalah sebagai suatu sarana pembelajaran kebijaksanaan dan moral kepada pangeran yang akan menjadi raja dengan tujuan sang pangeran mampu memimpin kerajaan menjadi kerajaan yang besar dan hebat. Sehingga candi bukan saja difungsikan sebagai tempat pemujaan tetapi juga sebagai sarana pembelajaran.

Keberadaan Cerita Binatang Pada Masa Modern

Tenggelamnya pusat-pusat Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara ternyata tidak berpengaruh terhadap cerita binatang ini. Cerita binatang di Indonesia malah memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat yang kemudian diturunkan kepada generasi penerusnya.

Budaya tutur inilah yang menyebabkan cerita binatang masih tetap eksis pada tahun 60-an dan 70-an. Kisah jenaka yang penuh dengan pesan moral membuat para orang tua tidak segan-segannya menceritakan kepada anaknya agar anaknya mampu mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Beberapa Cerita Relief Tantri

Bangau dan Kura-Kura

Perlombaan antara Garuda dan Kura-Kura

Singa dan Lembu

Burung dan Harimau

Tikus dan Ular yang tidak dapat menjadi teman

Monyet dan Sangkar Burung

dll.

Sumber Pustaka

Kempers, A. J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press

Kloke, Maria .J. 1990. The Tantri Relief on Ancient Javanese Candi. Desertasi. Leiden

Soekmono, R. 1974. Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi. Jakarta